3/04/2008

Mengatasi Kemiskinan


Masalah yang terbesar yang belum teratasi saat ini adalah kemiskinan. Sekalipun ada usaha-usaha untuk mengurangi jumlahnya namun tetap saja belum banyak yang berhasil. Angka kemiskinan yang menurut pemerintah menurun dari tahun ke tahun diragukan validitasnya oleh ahli-ahli ekonomi seperti pada kontroversi angka kemiskinan yang dkeluarkan pemerintah pada saat Presiden SBY mengantar APBN tahun 2007.

Bahkan saat ini ada yang sudah meninggal akibat kelaparan seperti yang menimpa seorang ibu yang hamil dan anaknya di makassar bebetapa hari yang lalu. Penyebabnya karena mereka tidak bisa membeli makanan.

Mengapa penanggulangan kemiskinan belum berhasil padahal banyak sekali program kemiskinan yang dikeluarkan pemerintah? Bagaimana mengatsinya?

Ditilik dari penyebabnya maka setidaknya ada dua model pendekatan. Pertama, pendekatan struktural dan kedua, kultural. Negara yang dominan. Masalahnya manajemen negara saat ini tidak beres alias salah kelola. Makanya kebijakan apapun tidak akan berjalan dengan baik. Negara juga saat ini tidak memiliki blue print bagi pengentasan kemiskinan. Semua program pengentasan kemiskinan adalah proyek yang cari untung. Makanya hampir semua gagal. Jargon pemberdayaan rakyat miskin terlalu politis.

Yang tidak kalah pentingnya adalah memakai pola kultural. Tetapi pola kultural sangat lambat kita lihat hasilnya karena yang disentuh adalah aspek sosial budaya, tradisi, agama dari masyarakat.Namun demikian hal tersebut sangat berpengaruh. Beberapa penelitian ahli menyimpulkan demikian.

Ambillah beberapa contoh. Misalnya, kesimpulan weber yang mengatakan bahwa sumber etos kapitalisme berasal dari protestan adalah bukti menarik bahwa betapa keyakinan atau agama dapat menjadi faktor penting dari usaha ekonomi. Atau juga Jepang yang punya tokugawa religion yang menurut ahli berperan sangat penting bagi kemajuan Jepang saat ini. Juga francis Fukuyama yang menulis buku Trust,berisi tentang pentignya kepercayaan sebagai modal sosial bagi kemajuan ekonomi di negara-negara eropa, amerika dan asia.

Jadi kesimpulan saya, jika negara saat ini tidak bisa diandalkan bagi pengentasan kemiskinan maka seharusnya civil society (masyarakat madani) yang harus banyak berperan. Setidaknya dalam kerangka pendekatan kutural yang lebih subtantif.

Read More..

3/03/2008

Revolusi dan Pilpres 2009

Tidak terlalu penting apakah presiden Indonesia tahun 2009 adalah militer atau bukan. Yang lebih penting adalah kemampuan dia memberikan perubahan-perubahan yang significant pada bangsa. Dia harus mampu membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Itu idealnya.

Masalahnya adalah apakah suprastruktur dan infrastruktur politik kita mendukung bagi terpilihnya orang yang ideal itu? Sepertinya untuk kondisi saat ini belum siap atau dengan sengaja tidak disiapkan.

Masih terlalu banyak hambatan dan tantangan bagi terbentuknya sebuah tatanan yang ideal. Pertama, keputusan-keputusan politik yang dihasilkan oleh DPR masih kentara dengan permainan kepentingan bagi-bagi kekuasaan. Hal itu tercermin pada undang-undang pemilu yang baru selesai itu. Kedua, secara umum tingkat rasionalitas politik kita masih jauh dari ideal. Rakyat kebanyakan memilih tidak melihat rekam jejak (track record) seseorang.

Rakyat umumnya terjebak pada permainan citra dan politik uang. Ketiga, orang-orang yang terbaik yang pantas untuk menduduki jabatan tertentu biasanya tidak diberi kesempatan atau memang jarang ada yang mau. Misalnya, Nurcholish Madjid ketika besedia ikut dalam konvensi Partai Gokar belum apa-apa sudah dimintai bukan hanya visi tapi yang lebih penting adalah "gizi". Makanya dia mengundurkan diri.
Karena itu memperbaiki bangsa Indonesia ini memang harus butuh kesabaran dan waktu yang relatif panjang. Hal ini karena mentalitas yang sudah terbangun bagi sebagian kalangan politisi kita adalah mentalitas korup. Kalau begitu bagaimana mengakhiri semua ini mengingat ekspektasi rakyat yang sangat besar terhadap perubahan? Apakah perlu sebuah revolusi?

Revolusi memang perlu. Tetapi revolusi bukan dalam artian melakukan tindakan perebutan kekuasaan yang berdarah-darah. Revolusi harus lebih mengarah pada revolusi sistem dan revolusi budaya. Dan kita sudah memilih sistem demokrasi sebagai sebuah pilihan karena diyakini demokrasi sampai saat ini merupakan sistem yang terbaik dari segala sistem yang ada. Namun demokrasi pun pada prakteknya kembali mengecewakan sebagian orang. Maka memperbaiki praktek demokrasi ini harus pula menjadi agenda besar. Programnya adalah bagaimana mendemokrasikan demokrasi (Antony Gidden).

Namun terhadap sistem budaya sepertinya masih dalam pencarian secara terus menerus. Dulu ada polemik kebudayaan antara sutan takdir Alisyahbana dengan Kihajar Dewantoro. Menurut STA Indonesia harus menerima konsep-konsep budaya dari Barat. Sementara Ki hajar Dewantara berprinsip kebudayaan Indonesia harus lahir dari bangsa Indonesia sendiri.

Terhadap hal ini pokok masalahnya berkaitan dengan masalah perkembangan dan kemajuan. Ke-Indonesiaan kita masih terus berproses. Tetapi satu hal yang tidak bisa di tolak adalah modernisme. Tampaknya titik temu semua kepentingan manusia dalam abad ini adalah penerimaan nilai-nilai modernisme tadi. Modernisme adalah cara berfikir baru, dinamis, progseif dan selalu aktual.

Jadi tampaknya menyelesaikan masalah Indonesia tidak cukup dengan mengganti presiden walaupun yang terpilih justru sangat bagus. Problem Indonesia adalah sangat mendasar yang melibatkan banyak sekali faktor.

Namun demikian, bila nanti terpilih presiden yang benevolent strong man (istilah dari Nurcholish Madjid) harus menjadi kesyukuran kita. Artinya dengan hal itu mudah-mudahan dia bisa memimpin Indonesia untuk mencapai cita-cita seluruh masyarakat yang ingin adil makmur yang diridhoi Tuhan Maha Esa.

Read More..

2/27/2008

Menyikapi Peran Laki-laki dan Perempuan.


Sering kali kita mendiskusikan tentang bagaimana sebaiknya pembagian peran antar laki-laki dan perempuan. Tidak jarang hal tersebut menjadi perdebatan yang hangat. Kaum laki-laki mengatakan dirinya mempunyai kelebihan dibanding perempuan dan begitu juga sebaliknya.

Ini sebenarnya menujukkan terlalu banyak hal yang kita tidak memahaminya secara proporsional termasuk dalam hal pembagian peran antara perempuan dan laki-laki. Dugaan ini penyebabnya karena mindset berfikir kita cenderung bias ke gender tertentu.

Bentukan mindset ini dipengaruhi oleh ideologi kapitalis yang berkuasa. Kredo utama kapitalis itu bagaimana mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya sehingga yang berlaku adu kuat dalam segala hal.

Karena sejarah manusia dipenuhi oleh cerita konflik peperangan dimana yang yang paling banyak ambil bagian adalah laki-laki dalam beroleh kemenangan maka Laki-laki selalu disebut simbol kekuatan dan keperkasaan (lebih banyak dalam makna fisik), sementara perempuan selalu disimbolkan oleh kelembutan dan kehalusan dll.

Hal itu kemudian berpengaruh pada cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya hal ini berpengaruh pada orang yang mengoperasikan kapitalisme itu.

Karena pengaruh kapitalis itu maka semua orang harus menjadi kuat, perkasa dan seterusnya karena yang diyakini jika kita ingin berhasil harus memenuhi kreteria itu. Politik dan bisnis menjadi "berdarah-darah" akibat adanya rivalitas yang menghalalkan segala cara.

Lebih parah lagi karena perempuan pun terbawa dalam mindset seperti itu. Ketika perempuan melihat dirinya lebih baik dari laki-laki itulah justru itulah tanda pelombaan "kelebihan" antara laki-laki (adu "kuat"). Nah, biar tidak terjebak dalam mindset demikian maka jenis kelamin jangan/tidak boleh dipertentangkan kelebihan maupun kekurangannya.

Sesungguhnya yang demikian itu menyalahi kodrat masing-masing yang artinya menyalahi kodrat/hukum alam. Yang harus dilakukan Laki-laki maupun perempuan adalah bagaimana memperlihatkan eksistensinya dengan berkarya(dalam makna luas) dengan kualitas yang terbaik.

Read More..

2/24/2008

Tentang Acara Televisi

Banyak pemirsa yang mengkrititik sinetron-sinetron yang ditayangkan di semua stasiun TV Indonesia. Mereka pada umumnya menilai hampir semua sinetron televisi tersebut tidak memenuhi kualitas yang diharapkan pemirsa. Saya pun setuju dengan hal tersebut. Dari sisi dramatikalnya, pemainnya dan ceritanya hampir semua biasa saja.

Tetapi bukan hanya sinetron yang kualitasnya jelek. Hampir semua produk audio visual yang ditayangkan di televisi kualitasnya jelek. Tanyangan berita, musik, atau iklan rata-rata juga begitu. Misalnya Pemberitaan tentang Pak Harto yang semua kompak seakan-akan satu nada.

Begitu juga tentang berita-berita kriminal yang efeknya bisa menimbulkan kriminal baru karena tayangannya yang sangat vulgar dan detail, dll. Iklan yang bikinan rumah produksi Indonesia juga rata-rata tidak bermutu.Tampilannya hanya seputar produk, wanita cantik dan seterusnya.

Jangan tanya iklan layanan masyarakat dari pemerintah. Tayangan gambar pejabatnya justru yang lebih menonjol dari pesan yang yang ingin disampaikan.

Saya pikir lepas dari sumber daya manusia yang membuatnya, kekurangan-kekurangan tersebut juga tidak terlepas komitmen dari para pemangku kepentingan sendiri yang rendah. Dari dulu keritik seperti ini sudah sering muncul tapi mengapa masih juga di produksi tayangan-tayangan yang tidak bermutu?

Terlepas dari selera pasar, para pemangku kepentingan tersebut dituntut untuk memproduksi tayangan yang bagus dan mendidik. Karena bagaimanapun tayangan audio visual sangat mempengaruhi keadaban sebuah bangsa.

Read More..

2/21/2008

Tanggapan Putusan MA Terhadap Pengurangan Anggaran Pendidikan

KEDIRI] Putusan MK yang mengabulkan permohonan /judicial review/ UU
Sisdiknas berpotensi terjadi pengurangan anggaran pendidikan. "Meskipun
yang mengajukan judicial review itu guru, tapi justru yang diuntungkan
pemerintah bukan guru," kata anggota Komisi C DPRD Kota Kediri, Jawa
Timur, Ahmad Tsalis, Kamis seperti dilansir /Antara/.

"Berarti ini tidak berarti apa-apa bagi guru, bahkan anggaran untuk
program pendidikan malah bisa berkurang, karena lebih banyak tersedot
untuk gaji guru," kata Tsalis.

Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI),
Soedjiharto di Jakarta, Kamis, mengatakan, memindahkan alokasi gaji guru
ke dalam anggaran pendidikan berdampak pendidikan akan semakin mahal.

"Dengan kata lain, pemerintah berusaha lepas tangan terhadap pembiayaan
pendidikan yang seharusnya menjadi kewajiban negara," ujarnya.

Soedijarto mengutip hasil peneli- tian Badan Perencanaan dan Pem-
bangunan Nasional (Bappenas), United Nations Development Programme
(UNDP), dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004.

Dalam penelitian tersebut, guna memenuhi kebutuhan pendidikan, biaya
siswa SD, SMP, SMA, prasekolah dan pendidikan lua sekolah totalnya
mencapai Rp 140,5 triliun.

Jika putusan MK tersebut menjadi rujukan Pemerintah dengan asumsi bisa
memenuhi anggaran pendidikan angka 20 persen sesuai amanat konstitusi,
belum bisa memecahkan kebutuhan pendidikan.

Untuk tahun 2008 misalnya dengan anggaran pendidikan yang tadinya hanya
Rp 48 triliun menjadi Rp 49,97 triliun setelah ditambah komponen gaji
guru (18 persen), tetap saja masih jauh dari kebutuhan rill pendidikan.

*Makna 20 Persen*

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sulawesi Tengah, Salehuddin Awal,
di Palu, Kamis mengatakan angka sekurang-kurangnya 20 persen anggaran
pendidikan mestinya lebih dimaknai sebagai komitmen meningkatkan
kualitas pendidikan nasional melalui pembangunan sarana dan peningkatan
sumber daya pendidikan.

''Komitmen itu harus didasarkan pada kondisi rill pendidikan di mana
masih banyak sekolah yang rusak, anak putus sekolah, kualitas tenaga
pendidik yang perlu ditingkatkan, serta berbagai problematika pendidikan
lainnya,'' ujar Salehuddin. [W-12]
Dikutip dari suara pembaruan.

Read More..

2/18/2008

Pengrajin Rotan Kesulitan Bahan Baku


beritapalu.com - Pengrajin mebel rotan di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengalami kesulitan memperoleh bahan baku mengakibatkan penurunan produksi dan omset. "Kondisi seperti sudah berlangsung setahun terakhir. Jika ini berlanjut kemungkinan besar banyak pengrajin gulung tikar," kata Ramli Amran (35), pengrajin rotan Kelurahan Ujuna, Palu, Senin.

Ramli mengatakan kebutuhan bahan baku selama ini dipasok oleh sejumlah industri pengolahan rotan mentah yang juga beroperasi di Palu, seperti PT Sunteg dan PT Loli Mas.

Sebelum krisis bahan baku, Ramli biasanya membeli sebanyak tiga sampai empat kali dalam sebulan. Sekali pembelian satu sampai dua ton. "Saat ini paling banyak dua kali pembelian bahan baku. Itupun tidak lebih dari satu ton," ujarnya.

Kurangnya pasokan rotan dari daerah penghasil seperti daerah Pantai Barat dan Kulawi di Kabupaten Donggala serta daerah Pantai Timur di Kabupaten Parigi Mouotong menjadi penyebab utama tersedia kebutuhan bahan baku untuk pengrajin di Kota Palu.

"Ini informasi yang kami peroleh dari pihak pabrik (industri pengolahan rotan)," katanya.

Hal senada diungkapkan Ny Herawati, pemilik mebel rotan UD Subur di Jalan Sungai Bongka, kelurahan Ujuna. Kesulitan memperoleh rotan membuat Herawati mengubah sistim pengupahan karyawan dari upah tetap bulanan menjadi upah kontrak sesuai produksi.

Selain itu, Herawati juga harus rajin mengunjungi pabrik-pabrik pengolahan rotan guna memperoleh bahan baku. Akibatnya terjadi penambahan biaya operasional.

"Jika tidak seperti ini, kami pasti gulung tikar," katanya.

Herawati menambahkan terbatasnya bahan baku secara otomatis menurunkan produksi hanya sekitar 20 set per bulan, sebelumnya bisa mencapai 30 set mebel rotan. "Dengan sendirinya, omset juga menurun," katanya menambahkan.

Ramli mengaku pendapatan yang diperoleh menunrun 30 - 50 persen. Saat pasokan bahan baku normal, Ramli biasanya membawa pulang sekitar Rp2 juta sebulan. "Sekarang paling tinggi satu setengah juta rupiah. Bahkan beberpa kali hanya sejuta," ujarnya.

Walikota Palu Rusdi Mastura dalam beberapa kali kesempatan menyatakan akan menjadikan daerahnya sebagai pusat perdagangan kakao dan kerajinan rotan.

Obsesi menjadikan Ibukota Sulteng ini sebagai sentra industri rotan karena produksi rotan Sulteng mencapai 200–300 ton per tahun atau sekitar 40 persen dari volume produksi rotan nasional 750 ton per tahun.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sulteng, Salehuddin Awal, menilai kesulitan bahan baku yang dialami pengrajin rotan di Palu sebuah ironi bagi daerah penghasil dan pemasok utama kebutuhan rotan nasional.

"Pemerintah daerah mesti mengevaluasi tata niaga rotan di Sulteng dengan memberi perlindungan dan jaminan bagi kesinambungan industri kecil," demikian Salehuddin.

Read More..

2/16/2008

Tentang Tuhan Yang Kita Sembah

Posting ini adalah tanggapan saya pada sebuah topik diskusi di situs facebook. Topiknya sendiri bertema konsep tentang Tuhan. Inilah tanggapan saya dengan sedikit pengembangan dan perbaikan.

Jika kita ingin menggambarkan Tuhan secara rasional , jelas dan gamblang melalui rasio ataupun perasaan kita pasti kita akan mengalami kegagalan. Kita akan terjebak pada Tuhan yang bersifat antroposentrisme. Namun sejalan dengan keingintahuan manusia pertanyaan tentang seperti apa Tuhan itu telah menyibukkan manusia sepanjang sejarahnya.

Dalam buku Sejarah Tuhan karangan Karen Amstrong terlihat bahwa konsep Tentang Tuhan itu selalu berevolusi mengikuti situasi dan kondisi pada waktu kapan manusia hidup.

Karenanya Karen Amstrong juga mempertanyakan apakah konsep kita tentang Tuhan saat ini masih relevan? Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa pembicaraan tentang Tuhan saat ini sering sekali terjebak pada antroprosentris. Tuhan yang digambarkan adalah Tuhan yang personal yakni penggambaran bahwa Tuhan itu seperti manusia yang memiliki kepribadian.

Budi munawar Rahman mendifinisikan Tuhan personal adalah penggambaran bahwa Tuhan itu seperti manusia, dalam artian memiliki pribadi. Jadi Tuhan bukan prinsip. Menurut perspektif ini, Tuhan bukan suatu yang berada di balik alam dan meliputi semuanya. Biasanya, lawan Tuhan personal adalah Tuhan yang a-personal atau impersonal.

Dalam sejarah, Tuhan yang impersonal ini banyak dibicarakan oleh para sufi. Tuhan para mistikus. Dan Armstrong mengatakan, bahwa masa depan Tuhan adalan persepsi kita tentang Tuhan. Tidak ada masa depan untuk Tuhan yang personal ini. Dia menggambarkan panjang lebar pada bab terakhir bukunya, mengenai prediksi masa depan Tuhan. Menurut dia, sejauh Tuhan masih digambarkan terlalu rasional —sebagaimana dalam teologi selama ini— selama itu pula kepercayaan kita mengenai Tuhan akan mengalami krisis dan selalu dipertanyakan kembali (Budi Munawar Rahman wawancara dengan Ulil Abshar Abdala,islamlib.com).

Padahal sejatinya Tuhan itu adalah impersonal sebagaimana banyak difahami oleh para sufi. Oleh karena itu gambaran Tuhan yang rasional pasti akan mengalami kebuntuan dan mungkin saja berujung pada atheism.

Nah, yang paling mungkin adalah menggunakan metafor ataupun analogi. Tetapi itu pun tak cukup karena dalam analogi ataupun metafor tersebut, Tuhan yang kita bicarakan itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya, tapi Tuhan dalam konsep kita. Sedangkan konsep tentang Tuhan sangat banyak dan punya klaim kebenaran masing-masing.

Walaupun demikian, saya setuju kalau untuk memahami Tuhan dengan rasio. Karena dari awal saya sudah menganjurkan untuk memakai analogi ataupun metafor agar kita mudah mengerti .

Agama sendiri mengajarkan agar kita mempergunakan akal-akal kita. Alquran dalam banyak ayat memberikan pertanyaan retorik seperti, apakah kalian tidak berfikir, apakah kalian tidak berakal dan seterusnya.

Tetapi menggambarkan Tuhan dengan rasio yang sangat personal sungguh tidak memuaskan bagi saya. Bagaimanapun Tuhan adalah kebenaran mutlak dan selain Tuhan adalah kebenaran nisbi belaka. Rasio adalah sebuah makhluk juga karenanya bersifat nisbi yang tidak mungkin mencapai derajat kebenaran mutlak itu.

Maka pada tataran kebenaran nisbi itulah berlakunya ilmu. Sebuah ilmu yang terdiri atas berbagai teori itu sesungguhnya adalah hanya bentuk sederhana dari realitas.

Oleh sebab itu sebuah teori selalu bisa dibantah seperti gambarkan Hegel dengan tesis, anti tesis dan sintetis. Begitu pun oleh Thomas Kuhn dalam konsep lahirnya sebuah paradigma.

Dengan mengerti demikian maka memahami Tuhan harus dengan skema memahami makhluknya terlebih dahulu barulah kita bisa faham yang dinamakan Tuhan. Mustahil kita bisa memahami atau merasakan kehadiran Tuhan tanpa kita memahami makhluk ciptaannya. Kebenaran nisbi harus terus menerus didekatkan pada kebenaran mutlak.

Read More..

Ekspresi Nasionalisme


Ada perbedaan ekspresi rasa nasionalisme pada masa orde baru dan saat ini. Pada masa orba nasionalisme itu dipaksakan oleh negara. Tentu nasionalisme yang lebih banyak untuk kepentingan negara atau lebih tepatnya pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Dengan berbagai cara dan alat negara memaksakan konsep nasionalisme ke rakyat.

Pada saat ini ekspresi nasionalime itu lebih alami. Ketika rakyat kelaparan, mereka pasti protes. Ketika mereka digusur pasti mereka teriak. Bila tiba-tiba minyak tanah hilang dari peredaran pasar pasti mereka unjuk rasa. Kita semua pasti menyatakan perang terhadap korupsi. Ini semua adalah ekspresi nasionalisme.

Aceh(Sebelum perjanjian Helsinky) dan juga Papua berjuang untuk memerdedakan diri pada subtansinya adalah bentuk bentuk lain dari perjuangan nasionalisme juga.

Sederhana saja alasannya. Berbagai macam protes, keritik ataupun mau merdeka tadi itu adalah perjuangan menuntut kesejahteraan dan keadilan yang lebih baik.

Jika rakyat berjuang untuk mencapai kesejahteraannya dan keadilan maka sebenarnya itu adalah rasa cinta tanah air, nasionalisme. Misinya adalah melenyapkan prilaku-prilaku buruk dari bangsa ini. Mereka tidak ingin bangsa ini dihegemoni oleh kekuasaan yang curang.

Cita-cita nasionalisme seperti itulah yang harus diwujudkan pada bangsa ini. Nasionalisme akan kuat jika bangsa ini setia pada komitmen untuk membangun rakyatnya. Tetapi sebaliknya akan roboh bila bangsa ini mengabaikan cita-citanya sendiri yakni mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa.

Read More..

2/12/2008

Benarkah Indonesia adalah negara demokrasi?

Sebuah negara dikatakan demokratis apabila negara tersebut terus berproses menuju ke masyarakat demokratis. Salah satu indikasi kuat kreteria negara demokratis adalah adanya pemilihan umum yang jujur dan adil.

Seperti diakui oleh pengamat Internasional bahwa sejak tahun 1999 Indonesia sudah melaksanakan pemilu secara relatif adil dan jujur. Bahkan pada pemilu tahun 1955 pun diakui sebagai pemilu yang adil.

Masalahnya sekarang kenapa dari pelaksanaan pemilu ataupun pilkada di banyak daerah selalu diwarnai oleh keributan yang tidak jarang menjadi kerusuhan? Padahal jika kita menilik nilai-nilai demokrasi sejatinya hal tesebut justru bertentangan dengan demokrasi.

Dalam pengamatan selanjutnya ternyata Indonesia masih dalam tataran melakasanakan demokrasi pada tingkatan prosedural yaitu sesuai dengan prosedur demokratis seperti adanya pemilu, adanya lembaga-lembaga perwakilan dan seterusnya.

Indonesia belum mencapai pada pelaksanaan demokrasi yang subtansial yaitu sikap-sikap dan prilaku demokratis. Hal ini tampak bukan hanya pada masyarakat sendiri tapi juga terutama pada pemerintah.

Karena itu tidak mengherankan jika keributan pada pilkada masih mewarnai proses demokrasi Indonesia. Disamping karena tingkat rasionalitas politik masyarakat pada umumya dinilai masih rendah juga karena demokrasi subtansial belum dilaksanakan.

Kiranya hal ini mengindikasikan jalan panjang demokrasi Indonesia masih penuh dengan hambatan dan tantangan justru dari efek dari demokrasi itu sendiri.

Read More..

2/10/2008

Agama : Pilihan atau Doktrin

Agama adalah pilihan tetapi juga mengandung doktrin. Jika memilih sebuah agama yang menjadi keyakinan kita maka sebenarnya kita meyakini doktrin-doktrin dari agama tersebut. Nah sejalan dengan kemajuan cara berfikir manusia, maka saat ini segala hal menjadi sasaran pertanyaan manusia.

Pertanyaan itu ada yang bersifat meragukan dan ada pula yang pertanyaan yang justru memperkuat fondasi keyakinan sebelumnya. Dalam hal ini termasuk dengan agama dan keberagamaan.

Bila kita memakai pendekatan rasioanalisme semata maka agama menjadi meragukan karena sendi pokoknya adalah keyakinan yang bersifat gaib tanpa pernah dapat dibuktikan dengan data-data empiris.

Karena itu memahami agama harus dengan keyakinan. Seterusnya keyakinan bersifat sangat personal yang tidak mungkin dinilai atau dirasakan oleh orang selain diri kita sendiri.

Saya berpendapat adalah tidak penting untuk selalu memperdebatkan sejauh mana kebenaran agama atau keyakinan kita atau sejauh mana kesalahan agama atau keyakinan orang lain. Karena dimensi kebenaran agama itu terlalu luas karena menyakut sebuah nilai yang diyakini masing-masing.

Yang lebih penting adalah sejauh mana fungsi agama atau keyakinan masing-masing dalam relasinya dalam kehidupan manusia. Inilah pesan universal dari seluruh agama.

Read More..

  © Blogger template 'Perhentian' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP