Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

3/04/2008

Mengatasi Kemiskinan


Masalah yang terbesar yang belum teratasi saat ini adalah kemiskinan. Sekalipun ada usaha-usaha untuk mengurangi jumlahnya namun tetap saja belum banyak yang berhasil. Angka kemiskinan yang menurut pemerintah menurun dari tahun ke tahun diragukan validitasnya oleh ahli-ahli ekonomi seperti pada kontroversi angka kemiskinan yang dkeluarkan pemerintah pada saat Presiden SBY mengantar APBN tahun 2007.

Bahkan saat ini ada yang sudah meninggal akibat kelaparan seperti yang menimpa seorang ibu yang hamil dan anaknya di makassar bebetapa hari yang lalu. Penyebabnya karena mereka tidak bisa membeli makanan.

Mengapa penanggulangan kemiskinan belum berhasil padahal banyak sekali program kemiskinan yang dikeluarkan pemerintah? Bagaimana mengatsinya?

Ditilik dari penyebabnya maka setidaknya ada dua model pendekatan. Pertama, pendekatan struktural dan kedua, kultural. Negara yang dominan. Masalahnya manajemen negara saat ini tidak beres alias salah kelola. Makanya kebijakan apapun tidak akan berjalan dengan baik. Negara juga saat ini tidak memiliki blue print bagi pengentasan kemiskinan. Semua program pengentasan kemiskinan adalah proyek yang cari untung. Makanya hampir semua gagal. Jargon pemberdayaan rakyat miskin terlalu politis.

Yang tidak kalah pentingnya adalah memakai pola kultural. Tetapi pola kultural sangat lambat kita lihat hasilnya karena yang disentuh adalah aspek sosial budaya, tradisi, agama dari masyarakat.Namun demikian hal tersebut sangat berpengaruh. Beberapa penelitian ahli menyimpulkan demikian.

Ambillah beberapa contoh. Misalnya, kesimpulan weber yang mengatakan bahwa sumber etos kapitalisme berasal dari protestan adalah bukti menarik bahwa betapa keyakinan atau agama dapat menjadi faktor penting dari usaha ekonomi. Atau juga Jepang yang punya tokugawa religion yang menurut ahli berperan sangat penting bagi kemajuan Jepang saat ini. Juga francis Fukuyama yang menulis buku Trust,berisi tentang pentignya kepercayaan sebagai modal sosial bagi kemajuan ekonomi di negara-negara eropa, amerika dan asia.

Jadi kesimpulan saya, jika negara saat ini tidak bisa diandalkan bagi pengentasan kemiskinan maka seharusnya civil society (masyarakat madani) yang harus banyak berperan. Setidaknya dalam kerangka pendekatan kutural yang lebih subtantif.

Read More..

2/27/2008

Menyikapi Peran Laki-laki dan Perempuan.


Sering kali kita mendiskusikan tentang bagaimana sebaiknya pembagian peran antar laki-laki dan perempuan. Tidak jarang hal tersebut menjadi perdebatan yang hangat. Kaum laki-laki mengatakan dirinya mempunyai kelebihan dibanding perempuan dan begitu juga sebaliknya.

Ini sebenarnya menujukkan terlalu banyak hal yang kita tidak memahaminya secara proporsional termasuk dalam hal pembagian peran antara perempuan dan laki-laki. Dugaan ini penyebabnya karena mindset berfikir kita cenderung bias ke gender tertentu.

Bentukan mindset ini dipengaruhi oleh ideologi kapitalis yang berkuasa. Kredo utama kapitalis itu bagaimana mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya sehingga yang berlaku adu kuat dalam segala hal.

Karena sejarah manusia dipenuhi oleh cerita konflik peperangan dimana yang yang paling banyak ambil bagian adalah laki-laki dalam beroleh kemenangan maka Laki-laki selalu disebut simbol kekuatan dan keperkasaan (lebih banyak dalam makna fisik), sementara perempuan selalu disimbolkan oleh kelembutan dan kehalusan dll.

Hal itu kemudian berpengaruh pada cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya hal ini berpengaruh pada orang yang mengoperasikan kapitalisme itu.

Karena pengaruh kapitalis itu maka semua orang harus menjadi kuat, perkasa dan seterusnya karena yang diyakini jika kita ingin berhasil harus memenuhi kreteria itu. Politik dan bisnis menjadi "berdarah-darah" akibat adanya rivalitas yang menghalalkan segala cara.

Lebih parah lagi karena perempuan pun terbawa dalam mindset seperti itu. Ketika perempuan melihat dirinya lebih baik dari laki-laki itulah justru itulah tanda pelombaan "kelebihan" antara laki-laki (adu "kuat"). Nah, biar tidak terjebak dalam mindset demikian maka jenis kelamin jangan/tidak boleh dipertentangkan kelebihan maupun kekurangannya.

Sesungguhnya yang demikian itu menyalahi kodrat masing-masing yang artinya menyalahi kodrat/hukum alam. Yang harus dilakukan Laki-laki maupun perempuan adalah bagaimana memperlihatkan eksistensinya dengan berkarya(dalam makna luas) dengan kualitas yang terbaik.

Read More..

2/24/2008

Tentang Acara Televisi

Banyak pemirsa yang mengkrititik sinetron-sinetron yang ditayangkan di semua stasiun TV Indonesia. Mereka pada umumnya menilai hampir semua sinetron televisi tersebut tidak memenuhi kualitas yang diharapkan pemirsa. Saya pun setuju dengan hal tersebut. Dari sisi dramatikalnya, pemainnya dan ceritanya hampir semua biasa saja.

Tetapi bukan hanya sinetron yang kualitasnya jelek. Hampir semua produk audio visual yang ditayangkan di televisi kualitasnya jelek. Tanyangan berita, musik, atau iklan rata-rata juga begitu. Misalnya Pemberitaan tentang Pak Harto yang semua kompak seakan-akan satu nada.

Begitu juga tentang berita-berita kriminal yang efeknya bisa menimbulkan kriminal baru karena tayangannya yang sangat vulgar dan detail, dll. Iklan yang bikinan rumah produksi Indonesia juga rata-rata tidak bermutu.Tampilannya hanya seputar produk, wanita cantik dan seterusnya.

Jangan tanya iklan layanan masyarakat dari pemerintah. Tayangan gambar pejabatnya justru yang lebih menonjol dari pesan yang yang ingin disampaikan.

Saya pikir lepas dari sumber daya manusia yang membuatnya, kekurangan-kekurangan tersebut juga tidak terlepas komitmen dari para pemangku kepentingan sendiri yang rendah. Dari dulu keritik seperti ini sudah sering muncul tapi mengapa masih juga di produksi tayangan-tayangan yang tidak bermutu?

Terlepas dari selera pasar, para pemangku kepentingan tersebut dituntut untuk memproduksi tayangan yang bagus dan mendidik. Karena bagaimanapun tayangan audio visual sangat mempengaruhi keadaban sebuah bangsa.

Read More..

2/16/2008

Tentang Tuhan Yang Kita Sembah

Posting ini adalah tanggapan saya pada sebuah topik diskusi di situs facebook. Topiknya sendiri bertema konsep tentang Tuhan. Inilah tanggapan saya dengan sedikit pengembangan dan perbaikan.

Jika kita ingin menggambarkan Tuhan secara rasional , jelas dan gamblang melalui rasio ataupun perasaan kita pasti kita akan mengalami kegagalan. Kita akan terjebak pada Tuhan yang bersifat antroposentrisme. Namun sejalan dengan keingintahuan manusia pertanyaan tentang seperti apa Tuhan itu telah menyibukkan manusia sepanjang sejarahnya.

Dalam buku Sejarah Tuhan karangan Karen Amstrong terlihat bahwa konsep Tentang Tuhan itu selalu berevolusi mengikuti situasi dan kondisi pada waktu kapan manusia hidup.

Karenanya Karen Amstrong juga mempertanyakan apakah konsep kita tentang Tuhan saat ini masih relevan? Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa pembicaraan tentang Tuhan saat ini sering sekali terjebak pada antroprosentris. Tuhan yang digambarkan adalah Tuhan yang personal yakni penggambaran bahwa Tuhan itu seperti manusia yang memiliki kepribadian.

Budi munawar Rahman mendifinisikan Tuhan personal adalah penggambaran bahwa Tuhan itu seperti manusia, dalam artian memiliki pribadi. Jadi Tuhan bukan prinsip. Menurut perspektif ini, Tuhan bukan suatu yang berada di balik alam dan meliputi semuanya. Biasanya, lawan Tuhan personal adalah Tuhan yang a-personal atau impersonal.

Dalam sejarah, Tuhan yang impersonal ini banyak dibicarakan oleh para sufi. Tuhan para mistikus. Dan Armstrong mengatakan, bahwa masa depan Tuhan adalan persepsi kita tentang Tuhan. Tidak ada masa depan untuk Tuhan yang personal ini. Dia menggambarkan panjang lebar pada bab terakhir bukunya, mengenai prediksi masa depan Tuhan. Menurut dia, sejauh Tuhan masih digambarkan terlalu rasional —sebagaimana dalam teologi selama ini— selama itu pula kepercayaan kita mengenai Tuhan akan mengalami krisis dan selalu dipertanyakan kembali (Budi Munawar Rahman wawancara dengan Ulil Abshar Abdala,islamlib.com).

Padahal sejatinya Tuhan itu adalah impersonal sebagaimana banyak difahami oleh para sufi. Oleh karena itu gambaran Tuhan yang rasional pasti akan mengalami kebuntuan dan mungkin saja berujung pada atheism.

Nah, yang paling mungkin adalah menggunakan metafor ataupun analogi. Tetapi itu pun tak cukup karena dalam analogi ataupun metafor tersebut, Tuhan yang kita bicarakan itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya, tapi Tuhan dalam konsep kita. Sedangkan konsep tentang Tuhan sangat banyak dan punya klaim kebenaran masing-masing.

Walaupun demikian, saya setuju kalau untuk memahami Tuhan dengan rasio. Karena dari awal saya sudah menganjurkan untuk memakai analogi ataupun metafor agar kita mudah mengerti .

Agama sendiri mengajarkan agar kita mempergunakan akal-akal kita. Alquran dalam banyak ayat memberikan pertanyaan retorik seperti, apakah kalian tidak berfikir, apakah kalian tidak berakal dan seterusnya.

Tetapi menggambarkan Tuhan dengan rasio yang sangat personal sungguh tidak memuaskan bagi saya. Bagaimanapun Tuhan adalah kebenaran mutlak dan selain Tuhan adalah kebenaran nisbi belaka. Rasio adalah sebuah makhluk juga karenanya bersifat nisbi yang tidak mungkin mencapai derajat kebenaran mutlak itu.

Maka pada tataran kebenaran nisbi itulah berlakunya ilmu. Sebuah ilmu yang terdiri atas berbagai teori itu sesungguhnya adalah hanya bentuk sederhana dari realitas.

Oleh sebab itu sebuah teori selalu bisa dibantah seperti gambarkan Hegel dengan tesis, anti tesis dan sintetis. Begitu pun oleh Thomas Kuhn dalam konsep lahirnya sebuah paradigma.

Dengan mengerti demikian maka memahami Tuhan harus dengan skema memahami makhluknya terlebih dahulu barulah kita bisa faham yang dinamakan Tuhan. Mustahil kita bisa memahami atau merasakan kehadiran Tuhan tanpa kita memahami makhluk ciptaannya. Kebenaran nisbi harus terus menerus didekatkan pada kebenaran mutlak.

Read More..

Ekspresi Nasionalisme


Ada perbedaan ekspresi rasa nasionalisme pada masa orde baru dan saat ini. Pada masa orba nasionalisme itu dipaksakan oleh negara. Tentu nasionalisme yang lebih banyak untuk kepentingan negara atau lebih tepatnya pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Dengan berbagai cara dan alat negara memaksakan konsep nasionalisme ke rakyat.

Pada saat ini ekspresi nasionalime itu lebih alami. Ketika rakyat kelaparan, mereka pasti protes. Ketika mereka digusur pasti mereka teriak. Bila tiba-tiba minyak tanah hilang dari peredaran pasar pasti mereka unjuk rasa. Kita semua pasti menyatakan perang terhadap korupsi. Ini semua adalah ekspresi nasionalisme.

Aceh(Sebelum perjanjian Helsinky) dan juga Papua berjuang untuk memerdedakan diri pada subtansinya adalah bentuk bentuk lain dari perjuangan nasionalisme juga.

Sederhana saja alasannya. Berbagai macam protes, keritik ataupun mau merdeka tadi itu adalah perjuangan menuntut kesejahteraan dan keadilan yang lebih baik.

Jika rakyat berjuang untuk mencapai kesejahteraannya dan keadilan maka sebenarnya itu adalah rasa cinta tanah air, nasionalisme. Misinya adalah melenyapkan prilaku-prilaku buruk dari bangsa ini. Mereka tidak ingin bangsa ini dihegemoni oleh kekuasaan yang curang.

Cita-cita nasionalisme seperti itulah yang harus diwujudkan pada bangsa ini. Nasionalisme akan kuat jika bangsa ini setia pada komitmen untuk membangun rakyatnya. Tetapi sebaliknya akan roboh bila bangsa ini mengabaikan cita-citanya sendiri yakni mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa.

Read More..

1/01/2008

Setelah Pesta Tahun Baru Usai

Bagaimana pesta tahun baru anda semalam? Meriah bukan? Dimanapun pesta tahun baru selalu ramai, ceria bahkan mewah. Namun apakah anda sadar dibalik pesta semalam itu ratusan orang di seluruh negeri khususnya yang terkena bencana hidup dalam penderitaan dalam barak-barak pengungsi? Mungkin sebagian besar kita lupa dengan hal itu. Watak pesta memang memberikan kesenangan yang memabukkan sehingga kita menjadi lalai dan alfa pada hal-hal yang menyangkut penderitaan.


Bagai sebagian orang, pesta yang meriah pada malam tahun baru memang adalah sesuatu yang logis. Alasan logisnya adalah setelah satu tahun bekerja dan beraktivitas harus dirayakan dengan kemenangan. Tidak usah mempedulikan bagaimana hasil capaian kita selama satu tahun itu yang penting the party must go on. Bagi yang merasa berhasil maka alasan logisnya menjadi bertambah kuat tetapi bagi tidak berhasil maka pesta itu merupakan ajang untuk melupakan sejenak kekurangan ataupun penderitaan yang selama ini dirasakan.


Tanpa mengabaikan orang-orang yang berhasil dan berprestasi, sebagian kita yang terhimpun dalam negara kesatuan Republik Indonesia ini merayakan pesta dengan tujuan yang kedua tadi. Memang faktanya, sebagian besar bangsa Indonesia masih berkategori hidup dalam kemiskinan dan kekurangan bahkan penderitaan. Karena itu orang-orang berpesta semalam itu sebagian besarnya terdiri orang-orang seperti disebutkan tadi.


Mereka memang perlu berpesta. Dengan pesta itulah mereka memperoleh kesenangan. Satu-satunya kemewahan yang mereka rayakan adalah pesta tahun baru itu disamping hari raya keagamaan. Sejenak melupakan kekurangan dan penderitaan sehari-hari. Harapannya apabila selesai berpesta, mereka mendapat semangat baru untuk mulai bekerja keras lagi.


Tetapi bagi kalangan lain yang lebih mampu, pesta tahun baru adalah cara mudah untuk melampiaskan sifat hedonisme. Kalangan ini memang identik dengan pesta. Bahkan barangkali tidak bisa hidup tanpa pesta. Maka berkumpullah mereka dalam pesta yang supermewah di hotel berbintang. Jangan tanya biaya pesta itu, tiket tanda masuknya saja sudah bisa membayar uang SPP mahasiswa di kota saya selama 4 tahun kuliah. Makanan tersedia secara berlimpah walaupun mereka kebanyakan menyantapnya sedikit saja.


Gambaran hidup kalangan terbatas itu justru yang menjadi panutan umum bagi bangsa kita. Kebiasaan hidup hedonisme itu sekarang menjangkit pada sebagian besar remaja dan kaum muda. Tanpa melihat diri dan kemampuan mereka terjebak pada pola hidup yang sangat konsumtif. Deretan fakta bisa ditemukan sehari-hari. Karena pola hidup yang demikian itu, mereka kemudian banyak yang memakai narkoba dan seks bebas. Maka menurut laporan sebuah koran yang terbit di kota saya, penjualan kondom pada malam tahun baru meningkat tajam. Pembeli pada umumnya adalah remaja.


Ironisnya bukan hanya pada malam tahun baru tetapi bangsa ini hampir setiap saat pada subtansinya. Ya, kita berpesta dalam kemeriahan korupsi, kita berpesta dalam perlombaan membabat hutan, kita berpesta dalam penggusuran orang-orang miskin, kita berpesta dalam kemenangan politik dan seterusnya.


Pesta semacam itulah yang menimbulkan bencana dimana-mana. Kehendak alam memang tidak bisa dilawan. Tetapi proses menuju terjadinya bencana tersebut boleh jadi karena kita tidak memahami kehendak alam. Alam dengan hukum-hukumnya yang telah ditetapkan oleh Tuhan dilanggar oleh manusia. Barangkali sebabnya adalah kita terlalu banyak berpesta foya dibawah penderitaan orang lain. Mungkin bencana adalah cara komunikasi Tuhan dalam bentuk moderen agar kita semua memperoleh peringatan setelah kitab suci tidak didengar lagi. Wallahu A'lam.

Read More..

12/26/2007

Ondel_Ondel Dan Orang Jepang

Waktu menunjukkan pukul 23.15 saat saya masih asyik browsing di sebuah warnet di Jalan Diponegoro Palu, Sulawesi Tengah. Warnet pada malam itu sepi, hanya ada dua orang pengunjung beserta satu operator. Tiba-tiba operator warnet teriak, pencuri, pencuri! Teriakannya keras sekali hingga mengagetkan saya. Kami kemudian keluar secara bersama mau melihat apa yang terjadi. Rupanya ada orang yang dengan cepat meyambar helm yang diletakkan di atas sepeda motor. Orang itu tidak sempat kami kejar lagi hingga dia menghilang dalam dalam gelapnya jalan diponegoro.


Helm milik operator warnet itu bukanlah barang yang berharga. Barangnya sudah usang karena sudah lama dipakai. Bagian luarnya sudah terkelupas, sedang bagian dalamnya sudah bau he he he he. Warnanya pun sudah pudar. Namun demikian, masih tetap bisa dipakai oleh pemiliknya. Kalau mau beli yang baru harganya kira-kira seratus limapulh ribu saja.Karena itu pemiknya pun tidak mempersoalkan helm itu. Katanya, halalkan saja. Mungkin saja dia lagi butuh sekali.
Saya kemudian merenung, apa memang karena dia butuh sekali atau memang ini adalah bentuk kenakalan anak muda pada malam hari? Oh yah, saya lupa. Orang yangmengambil itu memang sempat kami identifikasi sebagai anak muda.


Kejadian ini adalah peristiwa yang biasa saja yang terjadi setiap saat. Jangankan helm, pencurian kendaran (mewah) setiap hari terjadi Indonesia. Bahkan penculikan anak-anak sering sekali terjadi. Pihak keamanan sebenarnya sudah sering menangkap pelakunya dan di masukkan dalam penjara. Hingga kemudian dilepas dan mengulangi aksinya lagi.


Tetapi yang ditangkap oleh pihak keamanan juga masih banyak. Bahkan ada yang sudah dimasukkan dalam penjara tapi kemudian kabur dari penjara. Ini khusus bagi terhukum yang punya banyak uang. Kalau kasus seperti pencuri helm tadi pasti tidak bisa lolos. Ini tentu saja menimbulkan pertanyaan, apa sedemikian rapuhnya penjagaan penjara kita?


Bagi saya bukan tembok penjara yang rapuh hingga mudah dibobol tapi bangunan prilaku sebagian penegak hukum kita yang sangat mudah ditembus dengan iming-iming materi.
Kembali pada pencurian helm tadi. Saya pernah mendengar cerita dari seorang teman yang kebetulan pernah ke Jepang. Katanya, di Jepang kalau ada barang kita yangtertinggal di tempat umum, taksi, hotel atau taman pasti dengan mudah bisa ditemukan kembali. Kenapa rakyat kita tidak bisa berprilaku tertib seperti itu?


Menurut teman saya ada sebabnya. Teman saya bilang, dia pernah mengajak orang Jepang pergi ke sawah. Konon, orang Jepang tadi heran melihat ondel-ondel yang meyerupai manusia banyak diletakkan di sawah.Lalu, orang jepang tadi bertanya, untuk apa ondel-ondel itu? Teman saya jawab, untuk mengusir burung. Kata orang Jepang itu, pantas saja orang Indonesia tidak maju-maju karena jangankan manusia burung pun mau ditipu…ha ha ha ha….

Read More..

Menyambut 2008

Tahun baru 2008. Adakah yang baru? Tentu semua orang mengharapkan kondisi lebih baik dari kondisi tahun 2007. Pengusaha mengharapkan usahanya semakin untung. Petani mengharapkan semakin baik hasil panennya sehingga kesejaheteraanya lebih meningkat. Pengangguran mengharap mendapat pekerjaan dan buruh mengharapkan tidak terjadi PHK dan seterusnya.


Apa yang dicapai selama tahun 2007? Hal yang dicapai tentu bisa dibuat daftarnya dan hal-hal yang kurang pun dapat kita susun tabelnya. Semua itu merupakan hasil kerja warga bangsa. Tidak boleh ada yang mengatakan bahwa hasil yang demikian ini hanya merupakan hasil kerja pemerintah yang berkuasa saat ini. Semua warga negara pasti memberikan kontribusi terhadap apa yang dicapai selama ini yang tentu berdasarkan besarnya tanggungjawab sebagai implementasi hak dan kewajibannya masing-masing.


Justru karena tanggungjawab maka kita sebagai masyarakat dan warga negara wajib protes atau kritik pada pemerintah yang merupakan representasi negara. Karena negara adalah penanggungjawab penuh dalam memberikan kenyamanan, keamanan, kesejahteraan terhadap warganya. Dengan demikian para rakyat yang merupakan asuhan negara harus terus-menerus mempertanyakan kepada pemerintah bila ada hal yang dianggap belum secara optimal dijalankan.


Berkaitan dengan itu, maka kita boleh mempertanyakan apakah kondisi rakyat saat ini lebih baik dari tahun lalu misalnya? Jawabannya bisa beragam. Tergantung dari persefektif masing. Jika kita menanyakan pada para politisi yang merupakan "lawan" pemerintah sekarang pasti jawabannya selalu negatif. Tetapi jika kita menanyakan pada pemerintah justru hari ini atau tahun ini justru lebih baik. Mengapa bisa berbeda padahal baik yang baik pro maupun yang kontra sama-sama merasakan kondisi yang dialami saat ini? Disamping karena perbedaan persefektif tadi, juga karena adanya perbedaan kepentingan. Yang berkuasa kepentingannya adalah mempertahankan kekuasaan dan yang belum berkuasa tentu ingin berkuasa. Maka wajar saja kalau yang dibangun pemerintah adalah membuat citra positif bagi pemerintahannya.Sebaliknya bagi yang belum berkuasa juga mencitrakan dirinya sedemikian rupa agar melekat citra positif sehingga masyarakat kemudian memilih dia.


Dengan demikian kondisi politik 2008 pasti akan lebih seru karena ada agenda politik besar pada tahun 2009 yakni pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden. Bila tahun 2007 masih ada yang belum tampak maka tahun 2008 semua akan segera tampak. Perang citra, wacana, strategi untuk merebut hati rakyat semakin gencar. Dalam suasana yang serba politis ini, bagaimanakah rakyat memposisikan diri? Ikut melibatkan diri atau hanya sekedar menjadi penonton para politisi yang sedang bertarung sambil menertawakannya? Saya memilih keduanya. Arinya dalam keseriusan berpolitik kita tetap menyisakan tawa dan canda karena jika tidak kita akan terlibat konflik destruktif yang yang hanya menghasilkan zero zum game dalam political game itu.Wallahu A'lam

Read More..

8/27/2006

Cerita Makan Malam Menu Sate Ayam

Malam itu saya betul-betul lapar. Dalam perjalanan pulang ke rumah dari mengunjungi seorang teman, saya memberhentikan kendaraan di depan sebuah warung sederhana, penjual sate ayam. Saya memesan satu porsi karena memang saya sendirian. Tidak lama kemudian, hidangan sate ayam pesanan saya telah tersaji dengan rapi. Tercium aroma sate yang lezat dan sayur sop yang wangi. Ingin rasanya segera mencicipi hidangan itu.


Namun alangkah terkejutnya, ketika saya mengingat berita-berita yang saya baca di koran tadi pagi. Virus flu burung telah terjangkit di kota Palu. Banyak ayam yang mati mendadak. Pemerintah kota Palu segera bergerak cepat menangani virus mematikan tersebut. Berita itu kemudian dilansir oleh banyak media elektronik nasional sehingga beritanya cepat menyebar dan mempengaruhi selera makan saya.

Saya bergumam dalam hati, bahwa saya sebenarnya telah memilih masuk pada warung salah. Kenapa sate ayam ini yang menjadi menu malamku? Bukankah sepanjang yang jalan yang kulewati tadi berderet rumah makan yang menyediakan menu lain? Ah, saya mungkin lagi sial malam ini. Saya kemudian berdoa, semoga sate ayam ini steril dari virus flu burung,Amin.

Akibat terlalu lapar dan sudah terlanjur pesan, akhirnya saya menyerah sama "takdir". Saya harus ikhlas makan sate ayam ini. Tetapi sebelum mencicipi, akibat ketakutan dan kekuatiran yang berlebihan, saya "introgasi" dulu pemilik warung ini. Layaknya Wianda pusponegoro, penyiar berita Metro TV yang memang saya kagumi itu, saya melakukan wawancara dengan profesional. Dimana ayam ini dibeli? Bagaimana kondisi ayam ini saat dibeli, sehat atau sakit? Siapa yang memotongnya?...

Kalimat pertanyaanku meluncur deras. Belum selesai narasumberku menjawab, datang lagi pertanyaan berikutnya.Karena keingintahuanku yang sangat besar, maka segala jawaban yang diberikan rasanya tidak memuaskan. Akibatnya saya memutuskan untuk tidak menghabiskan menu sate ayamku yang sebebenarnya enak.

Saya sebenarnya mengetahui bahwa ayam yang telah dimasak pada suhu sekitar 80 derajat celcius telah bebas virus ini. Saya juga mengetahui cara-cara penularannya. Saya memang rajin mencari informasi mengenai virus flu burung ini. Bila ingin mngetahui secara detail,bukalah website Departemen Kesehatan RI(www.depkes.go.id). Tapi mengapa saya begitu ketakutan dan mengalami kekuatiran?

Rasa kuatir dan ketakutan itu sebenarnya bersumber dari tingkat kepercayaan saya yang lemah terhadap pemerintah. Kinerja pemerintah dalam menuntaskan berbagai masalah ditengah masyarakat sangat minim. Saya menilai tindakan pemerintah serba ragu-ragu dalam memutuskan suatu tindakan. Pemerintah tidak peka terhadap persoalan dimasyarakat. Pemerintah tidak punya komitmen sehingga data kemiskinan pun berupaya dikelabui.

Biar jelas, saya berikan dua contoh ssja. Kebetulan dua kasus ini masih terkatung-katung penyelesaiannya.Pertama, kasus lumpur panas Lapindo di Sidoarjo. Sejak bulan Mei sampai Agustus ini belum ada titik terang kapan lumpur panas itu bisa dihentikan. Bahwa usaha-usaha penghentian ini terus dilakukan, itu betul. Dan bahwa kasus itu sepenuhnya tanggung jawab PT. Lapindo, itu juga benar. Bahwa segala kerugian baik materil maupun immateril harus sepenuhnya dibebankan pada PT.Lapindo, itu juga tidak salah. Tetapi saya tidak melihat peran pemerintah minimal sebagai fasilitator,kalau bisa menekan, untuk mengakomodasi tuntutan segala kerugian dari masyarakat korban. Pamerintah juga serba ragu dalam menyeret PT.Lapindo ke meja hukum. Padahal sudah jelas, kasus tersebut jelas dikategorikan sebagai corporate crime.

Kedua, kasus Tibo dan kawan-kawannya. Sejumlah pengamat yang saya cermati pernyataannya,semua menginginkan agar pelaksanaan hukuman mati harus segera dilaksanakan.Tidak boleh ada penundaan lagi. Argumentasi hukumnya sangat kuat. Keputusannya hukum sudah jelas, sudah final yakni eksekusi mati. Tapi saat ini pemerintah belum melaksanakan juga eksekusi itu. Padahal, dampaknya sudah terasa ditengah masyarakat. Masyarakat kemudian tebelah lagi menjadi dua kelompok, ada pro dan kontra. Ironisya segregasi masyarakat itu sangat tidak sehat, karena kesannya dipengaruhi agama dan ideologi keyakinan masing-masing. Padahal pelaksanaan hukuman mati tersebut,sebenarnya merupakan penegakan hukum saja.Tidak ada urusannya dengan keyakinan agama dan ideologi apapun. Masalah Tibo merupakan contoh pembelajaran hukum yang paling buruk di Indonesia.

Nah, alasan ketakutan dan kekuatiran mudah-mudahan menjadi jelas. Mengurus hal-hal yang tampak nyata saja pemerintah tidak mampu dan tidak serius. Apalagi mengurus makhluk mikroskopis yang namanya virus flu burung ini. Ah, kita sudah saja. Saya jadi tambah ngeri, lagipula saya masih lapar...maaf! >

Read More..

  © Blogger template 'Perhentian' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP